Legenda Datu Tawun



Dahulu kala di sebuah tempat yang berada bagian barat Sekotong hiduplah seorang raja yang terkenal memiliki sebuah keris pusaka yang ampuh raja tersebut bernama  Datu Tawun, Datu tawun memiliki  dua orang permaisuri yang berbeda agama  yang satu  beragama Hindu dan yang satunya lagi beragama  islam. Dari kedua permaisurinya itu sang raja dikaruniai keturunan seorang putra dan seorang putri, yang putra  lahir dari permaisuri yang beragama Hindu dan di beri nama  Brahmana Agung sedangkan dari permaisuri yang beragama Islam lahir seorang putri yang cantik jelita  bernama Dewi anjani. Namun konon diceritakan pada masa itu terjadi suatu fitnah yang hebat yang melanda keluarga kerajaan yang mengakibatkan hubungan mereka retak dan berantakan disebabkan oleh fitnah tersebut maka para permaisuri dan anak mereka di usir dan di buang di tempat yang berbeda. Permaisuri yang beragama Hindu bersama putranya di buang ke Gunung Agung, sedangkan permaisuri  dan putrinya  yang beragama Islam diusir dan dibuang  disebuah gunung yang  tertinggi di pulau Lombok bernama Gunung Rinjani.  Dalam suasana keadaan seperti  itu Datu Tawun lalu memutuskan untuk pergi mengembara dari kerajaan asalnya  kesalah satu tempat di bawah gunung yang dekat dengan pantai nan indah disitulah Sang sang raja memutuskan untuk berdiam menenangkan  diri  bersama para pengawalnya yang setia konon  ditempat  itulah pula sang raja melakukan acara sakral  dan membuat tempat memasak dari bahan tiga bongkah batu yang di bentuk bundar menyerupai sebuah tungku sebagai tempat membuat perapian dan memasak. Masyarakat setempat menyebutnya batu jangkeh yang kalau di bahasa Indonesiakan batu jangkeh berarti batu tungku,  pada saat itu hutan belantara masih lebat kalaupun laut dekat tetapi mereka susah untuk mendapatkan air tawar untuk minum sekaligus mandi  dan memasak maka berdirilah sang raja  seraya menghunus keris pusaka andalannya lalu ditancapkanlah keris tersebut ke sebuah bongkahan batu  yang berada dibawah  pohon besar ditempat itu lalu keajaiban terjadi dengan seketika tiba-tiba keluarlah mata air jernih dari celah batu tersebut dan disanalah mereka mengambil air dan mandi setiap hari dan untuk keperluan memasak. disekitar itu pula mereka makan bersama ( sasak medahar) dan itulah sebabnya tempat itu juga di sebut oleh masyarakat setempat dengan sebutan Aiq Dahar yang dalam bahasa indonesia berarti air yang dipakai minum saat selesai makan. Konon dikisahkan disitu pula Datu Tawun hilang  lenyap tanpa jejak bagaikan di telan bumi, tempat itulah yang di yakini masyarakat Budha di desa Tawun sebagai salah satu tempat sisa-sisa peninggalan Datu Tawun yang masih dijaga sampai sekarang dan dari nama Datu Tawun inilah salah satu alasan nama desa dibagian Sekotong Barat itu di sematkan dengan nama Desa Tawun.




Posting Komentar

0 Komentar