Kisah Cinta Arya Banjar Getas, Cerita Rakyat Pulau Lombok



Pada zaman dahulu di Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan besar. Kerajaan itu bernama Pejanggiq. Adapun yang memerintah negeri tersebut bernama Datu Mas Pati. Ia mempunyai seorang putra yang amat tampan dan berkulit putih kuning. Semenjak lahir putra tersebut memiliki suatu tanda yang amat aneh. Ujung kemaluannya kerap kali bercahaya memancarkan sinar. Ketika melihat hal itu, Datu Mas Pati menjadi gelisah. Ia memandang hal itu sebagai suatu firasat yang kurang baik. Ia yakin putranya kelak akan memiliki kelainan-kelainan. Oleh karena firasat itu selalu mengganggu dirinya, ia pun memanggil seluruh ahli nujum yang berada di kerajaan itu. Mereka diperintahkan untuk meramalkan makna dari tanda ajaib yang dimiliki putra itu. Setelah para ahli melaksanakan keahliannya, ternyata hanya seoranglah yang berani mengemukakan pendapat. Ahli nujum itu berasal dari Desa Tenang. Dengan penuh keyakinan, ia menyampaikan kepada Datu Mas Pati bahwa tanda yang dimiliki putranya itu adalah suatu tanda panas. 

Setelah ahli nujum dari Desa Tenang itu mengemukakan pendapatnya dan disepakati oleh ahli-ahli nujum yang lain, raja pun mempercayai hasil ramalan itu. Oleh karena itu, ia pun mengadakan sidang dan meminta pertimbangan tentang langkah-langkah yang harus diambil terhadap putranya itu sebelum tanda-tanda buruk menjadi kenyataan, baik berupa bencana maupun kejadian-kejadian lain yang tak diingini. 

Ketika mendengar usul raja, anggota persidangan menjadi terdiam. Tak seorang pun berani membuka mulut atau angkat bicara.Suasana menjadi senyap sejenak , masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri. Setelah kesenyapan berjalan beberapa saat, raja pun memecahkannya dengan berkata. "Oieh karena tak seorang pun di antara kalian yang mengajukan pendapat, dengarkan pendapatku. Menurut hematku, anak tersebut harus dilenyapkan. Ia harus dibunuh." Ketika mendengar kata-kata rajanya, permusyawaratan menjadi gemuruh. Semua peserta mengemukakan pendapat. Mereka menolak pendapat rajanya. Mereka tak setuju akan pembunuhan itu. Mereka memandang tindakan seperti itu adalah tindakan kejam dan biadab sebab putra itu tidak bersalah dan masih terlalu kecil. Ketika mendengar para peserta musyawarah tidak setuju atas putusannya, raja mundur selangkah. Akhirnya, mereka pun sepakat untuk membuang putra tersebut ke laut. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah peti dan putra makhota tersebut dimasukkan di dalamnya. Setelah ditutup dengan baik sehingga air tak dapat masuk ke dalamnya, peti itu pun dihanyutkan ke laut dengan iringan air mata dari seluruh pengantar. 

Peti itu pun terseret arus menuju ke tengah laut dan dihantam oleh gelombang. Dengan demikian, berlalulah peti tersebut mengikuti jalannya gelombang laut. Pada saat yang bersamaan, tersebutlah sebuah kisah di Pulau Jawa. Pada suatu malam permaisuri bermimpi sedang mengail di tengah laut. Pada saat itu, ia memperoleh sebuah permata yang sangat bagus, bercahaya, dan gemerlapan. Ketika terjaga, sang permaisuri pun menceritakan mimpi itu kepada suaminya. Sebagai seorang yang mengerti seluk-beluk mimpi, sang raja menafsirkan bahwa mimpi itu bukanlah kembang tidur semata, tetapi merupakan suatu isyarat baik dari Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, sang raja segera memerintahkan para pembesar negeri agar turut mengail ke tengah laut yang disebut dalam mimpi permaisuri. 

Setelah tiba di tempat yang dituju, mereka semua melepaskan kail. Kail me[eka tersangkut pada sebuah benda besar. Merekahidup. Garis-garisnya amat halus. Setelah selesai dan dianggap sempurna lukisan itu pun disampaikan kepada sang raja. Sang raja sangat berterima kasih kepada Banjar Getas karena harapannya telah menjadi kenyataan. Akan tetapi, setelah memperhatikan lukisan itu dengan cermat, sang raja menjadi sangat murka. Lukisan itu sangat menyinggung perasaan sang raja. Karena di salah satu tubuh lukisan permaisuri terdapat tahi lalat. Tahi lalat itu memang dimiliki oleh permaisuri dan tepat pada tempat yang sangat rahasia itu. Maksud sang raja tahi lalat itu jangan sampai terlukis. Sesungguhnya, Banjar Getas tidak sengaja melukis tahi lalat itu. Tahi lalat itu terjadi hanya karena percikan tinta lukisan. Banjar Getas pun akhirnya menjelaskan hal itu kepada sang raja. Akan tetapi, sang raja tak mau mempercayainya karena ketepatan bentuk dan letaknya tahi lalat itu. Bahkan, Banjar Getas pun dibentak dan dituduh telah menodai permaisuri. Raja memandang ketepatan letak dan bentuk tahi lalat itu adalah suatu yang mustahil jika Banjar Getas tak pernah berbuat sesuatu dengan permaisuri. Akhirnya, Banjar Getas pun diusir dari lingkungan istana. 

Dengan perasaan sedih dan malu, Banjar Getas pun meninggalkan istana. Ia pergi diikuti oleh 44 orang pengiring yang setia dan mencitainya. Kepergian Banjar Getas tak mempunyai tujuan yang pasti. Ia berjalan terus tak tentu arah. Akan tetapi, nasib dan takdir menentukan. Akhirnya, Banjar Getas beserta pengiringnya tiba di Labuhan Tereng. Dari tempat itu rombongan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Di sebuah perkampungan kecil itu, Banjar Getas dan rombongan bermalam. Ia menginap pada pondok Amaq Bangkol. Sampai saat ini tempat Banjar Getas menginap dinamakan tuduh. Kalau mendengar riwayat Banjar Getas, A. Bangkol membujuknya agar berkenan menetap di kampung yang kecil itu. Oleh karena desakan Amaq Bengkol, Banjar Getas pun memutuskan untuk menetap di kampung itu.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, Banjar Getas dan rombongan membuat bunga kertas dengan berbagai warna. Bunga kertas yang tampak indah itu dijual di pasar oleh lnaq Bangkol. Bunga kertas itu laku dengan cepat. Banjar Getas memang seorang seniman. Hasil karyanya digemari di mana-mana. Pada suatu hari tibalah lnaq Bangkol di kerajaan Kentawang. Di kerajaan itu dagangan lnaq Bangkol amat laris. Permintaan mengalir tanpa henti. Bahkan, putri Kerajaan Kentawang pun meme�san untuk dibuatkan bunga tunjung. Sang putri yang bernama Terong Kuning itu sangat mengagumi hasil karya itu. ltulah sebabnya ia menanyakan siapa pembuatnya. lnaq Bangkol mengatakan bahwa yang membuat bunga kertas itu adalah anaknya sendiri. Dengan jalan berdagang, lnaq Hangkol setiap harinya berhasil memasuki istana. 

Pada suatu hari istana akan menyelenggarakan upacara. lnaq Bangkol memperoleh undangan juga. Bahkan, dengan suatu tekanan keharusan untuk hadir, hal itu diceritakan kepada Banjar Getas. Ketika mendengar hal itu, Banjar Getas menyuruh lnaq Bangkol untuk membuat opak, ore, dan renggi jenis jajan yang layak dihaturkan kepada sang raja. Banjar Getas pun sanggup membuat lensongan berukuran 1 x 1 meter untuk tempat jajan itu. Sehari sebelum upacara dimulai, Banjar Getas bersama dengan ke-44 pengiringnya berangkat ke Kentawang dengan memikul lensongan. Di sepanjang jalan lensongan itu dikagumi karena buatan dan bentuknya yang amat bagus. Mereka bukan hanya mengagumi saja. Mereka banyak yang larut dan turut dalam rombongan itu. 

Rombongan itu menjadi sangat banyak dan ramai dengan iringan yang panjang. Setelah tiba di Kentawang, rombongan bersorak-sorai dengan gembira, sehingga suasana menjadi amat riuh. Raja pun bertanya dalam hati. Apa yang terjadi di luar. Putri Kentawang pun berlari menuju ke luar untuk menyaksikan keramaian itu. Namun, ditahan oleh sang raja. Untuk memenuhi keinginannya, sang raja memerintahkan mengambil tangga untuk tuan putri agar dapat menyaksikan dari atas tembok. Dari tempat itu, Putri Kentawang dapat dengan jelas menyaksikan lensongan yang dibawa oleh Banjar Getas. Tanpa disengaja pandangan tuan putri bertemu dengan pandangan Banjar Getas. Keduanya merasakan perasaan yang sama, perasaan yang sulit dilukiskan. 

Putri Kentawang lupa pada posisinya. Ia naik ke anak tangga yang lebih tinggi, lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi sehingga tangga itu tak lagi seimbang. Titik beratnya telah berpindah ke bagian atas. Akhirnya, tangga itu terbalik sehingga Putri Kentawang terlempar ke luar tembok dan jatuh menimpa Banjar Getas tanpa sengaja. Banjar Getas pun terjatuh, terguling, dan berhimpitan dengan Putri Kentawang. Peristiwa itu menyebabkan suasana menjadi sangat ramai. Raja menjenguk ke luar tembok istana dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi. Oleh karena itu, Raja Kentawang pun naik darah dengan seketika. Beliau menghunus keris yang terselip di piriggangnya serta dihujamkan ke tubuh Banjar Getas bertubi-tubi. Ketika mendapat serangan yang sangat tiba-tiba itu, Banjar Getas mengadakan perlawanan sambil mundur. Lensongan beserta isinya hancur berantakan. Raja sangat marah karena menganggap Banjar Getas sebagai pembuat onar dan menjatuhkan martabat keluarga besar Kentawang. 

Akhirnya, Banjar Getas berhasil mundur dan meloloskan diri dari serangan sang raja. Banjar Getas dan rombongan pengiringnya pergi dari Kentawang berjalan menuju ke arah Sekaroh. Dari Sekaroh perjalanan dilanjutkan ke arah Sengkerang langsung ke Bayan dan terus ke Selaparang. Kehidupan dan tempat tinggal Banjar Getas terus berpindah pindah. Pada suatu hari, Banjar Getas pergi ke Pejanggiq. Saat itu Pejanggiq diperintah oleh seorang raja muda sebab raja tua telah meninggal dunia. Umur raja muda itu sebaya dengan umur Banjar Getas. Sampai di Pejanggiq, Banjar Getas menyaksikan orang banyak sedang menerima pembagian beras. Negeri itu sedang ditimpa bahaya kelaparan. Pembagian itu tidak merata dan akhirnya banyak yang menggerutu. Sebagian berhasil, sebagian tidak berhasil atau gagal. Banjar Getas mendekati mereka dan meminta agar datang lagi keesokan harinya. Ia berjanji akan mengatur pembagian itu. Benar juga. Keesokan harinya rakyat pun datang berduyun-duyun. 

Pembagian pun dilakukan seperti biasa. Suasana pun menjadi kacau ketika melihat hal itu, Banjar Getas pun menawarkan jasa kepada petugas. Setelah mendapat persetujuan, Banjar Getas memerintahkan untuk membuat ruangan berpintu dua , yaitu pintu masuk dan pintu keluar. Dengan pengaturannya, semua orang mendapat bagian yang sama, sehingga tak terdengar lagi kegaduhan atau pun gerutu orang banyak. Secara kebetulan , raja negeri itu datang untuk menyaksikan pembagian beras oleh pelaksananya. Ketika melihat kecakapan Banjar Getas, sang raja merasa tertarik dan memintanya agar mau tinggal di Kerajaan Pejanggiq. Selama menetap di Pejanggiq hubungan raja dengan dirinya berlangsung dengan baik. Raja sangat mempercayainya. Pada suatu hari raja menyampaikan niatnya untuk berumah tangga. Raja meminta kepada Banjar Getas agar mencarikan gadis yang layak menjadi istrinya. Setelah mencari ke segenap penjuru negera, Banjar Getas hanya menemukan dua orang yang cocok, yaitu Denda Bunga dan Denda Terong Kuning, putri Raja Kentawang. Raja pun meminta agar Banjar Getas berangkat ke Kentawang. Oleh karena itu, Banjar Getas membuat suatu siasat dengan menyamar sebagai pedagang perhiasan. Dengan siasat itu, ia berhasil masuk ke istana. Ketika menjajakan perhiasan kepada Denda Terong Kuning, mata kedua insan itu bertemu. Hati keduanya terpaut. Tak lama berada di dalam istana, Banjar Getas pun meninggalkan lstana Kentawang dan kembali ke Pejanggiq untuk melaporkan perjalanannya. Kecantikan kedua putri itu diceritakan kepada Raja Pejanggiq. Ketika mendengar laporan itu, raja pun memutuskan untuk melakukan lamaran. Banjar Getas pun diutus untuk menyamapaikan surat lamaran beberapa hari kemudian. Surat itu ditujukan kepada Raja Kentawang. Di samping itu, Banjar Getas pun membuat surat pribadi yang ditujukan kepada Denda Terong Kuning . Dalam surat itu, ia bertanya kepada Denda Terong Kuning , siapakah yang akan menjadi pilihan Denda Terong Kuning . Raja Pejanggiqkah atau Banjar Getas. 

Setelah Raja Kentawang menerima surat Raja Pejanggiq, Ia merasa sangat gembira karena Kerajaan Pejanggiq berkenan menyambung hubungan dengan Kerajaan Kentawang. Oleh karena sambutan yang baik itu, Banjar Getas menentukan saat dan waktu pengambilan. Dikatakan bahwa Putri Kentawang akan dijemput pada malam Kamis dan harus diantar hingga Lendang Kampu serta membawa penerangan obor. Sedangkan rombongan Pejanggiq akan menjemput di Lendang Kampu. Setelah perjanjian itu, Banjar Getas pun meninggalkan Negeri Kentawang dan melaporkan hasil perjalanannya kepada Datu Pejanggiq. Akan tetapi, dalam laporan itu Banjar Getas melaporkan bahwa Denda Terong Kuning memiliki ilmu selaq.Ia berniat akan mengadakan permusyawaratan kaum selaq pada malam Kamis di Lendang Kampu . Ketika mendengar laporan itu, sang raja berikir sejenak. Kemudian, ia menyatakan pendapatnya bahwa ia ingin membuktikannya. Hal itu pun disanggupi oleh Banjar Getas. Raja pun menyatakan pendapatnya bahwa sedapat mungkin beliau harus mengawini putri Kentawang karena lamaran telah dijalankan. Hina benar jikalau membatalkan lamaran tanpa alasan yang cukup kuat dan hal itu akan dapat meruntuhkan martabat Kerajaan Pejanggiq. 

Pada malam Kamis yang telah ditentukan, Banjar Getas mengajak sang raja berangkat untuk membuktikan adanya tuselaq yang sedang menyelenggarakan permusyawaratan (rapat). Saat yang sama rombongan calon pengantin dari Kentawang pun berangkat menuju Pangadangan. Denda Terong Kuning dihias dengan pakaian gemerlapan seperti biasanya calon pengantin. Denda Bunga pun turut serta   dalam rombongan itu. Oleh karena rombongan berangkat malam hari, mereka pun membawa penerangan berupa obor. Dari jauh nyala obor itu telah tampak sangat ramai. Pada tempat yang sepi dan terkenal angker nyala obor itu memberikan asosiasi menakutkan. Nyalanya tampak bagaikan nyala tuselaq yang sedang berangkat ke suatu tempat. Dari jauh nyala itu telah tampak oleh Banjar Getas dan Raja Pejanggiq. Ketika melihat hal itu Banjar Getas pun berkata kepada rajanya. "Tuanku, lihatlah nyala itu. Pastilah nyala selaq yang akan mengadakan permusyawaratan (sangkep/rapat). Tampaknya sangat menakutkan. Kata orang, Denda Terong Kuninglah pemimpin mereka," kata Banjar Getas dengan sungguh-sungguh. Ketika mendengar hal itu dan sambil mengamati cahaya di kejauhan yang tampak menyeramkan, terasa nyali Raja Pejanggiq mulai mengecil. Akan tetapi, beliau berusaha menguasai diri. 

"Benarkah itu nyala tuselaq, Banjar Getas. Tidakkah itu nyala obor penduduk yang sedang berpesta pora?" Banjar Getas pun memotong dengan cepat. 

"Mungkin benar sabda Tuanku. Hamba akan membuktikan. Tunggulah hamba di tempat ini. Hamba akan ke tempat itu agar dapat mengetahui dengan pasti."

 Tanpa menunggu jawaban, Banjar Getas pun berlari dengan cepat. Tanpa dapat berpikir panjang, sang raja pun merestuinya dengan penuh tanda tanya. Setelah itu, Banjar Getas bergerak dengan cepat menuju ke cahaya yang banyak itu. Setelah tiba, ia pun memerintahkan kepada semua rombongan untuk mematikan semua obor yang menyala itu. Dalam sekejap suasana pun menjadi gelap gulita. Raja Pejanggiq yang mengamati dari kejauhan merasa ngeri menyaksikan cahaya yang padam dengan seketika itu. Bulu kuduknya terasa berdiri. Kini ia menjadi yakin bahwa nyala itu adalah nyala selaq (leak). 

Dengan berdebar, Datu Pejanggiq menanti kedatangan Banjar Getas kembali. Saat yang sama Banjar Getas memerintahkan Denda Terong Kuning untuk berganti pakaian hitam dan mengotori wajahnya sehingga meyakinkan bahwa dirinya untuk berpura-pura pandai dalam ilmu selaq (sejenis aliran ilmu hitam yang menakutkan dan umumnya pelaku ilmu itu di benci oleh masyarakat Lombok). Setelah semua kata-kata Banjar Getas dilaksanakan, ia pun kembali dengan cepat menemui Raja Pejanggiq yang sedang menantinya dengan penuh tanda tanya. Akhirnya , Banjar Getas pun berkata "Benar Tuanku. Begitu hamba mendekat, semua nyala itu padam seketika. Benarlah kata orang , malam ini para tuselaq sedang bermusyawarah dan Denda Terong Kuninglah pemimpinnya." Sesaat Banjar Getas menghentikan kata-katanya kemudian disambungnya

 "Oleh karena itu , terserahlah Tuanku sekarang. Denda Terong Kuning jelas pandai ilmuselaq." 

"Akan tetapi lamaran itu telah kita jalankan, pastilah kecewa hati Raja Kentawang akan sikap kita kalau lamaran itu kita batalkan." kata raja Pejanggiq.

"Tidak Tuanku. Menurut kebiasaan, Denda Bunga saudara Denda Terong Kuning pasti turut serta dalam rombongan yang akan datang itu. Tuanku masih dapat melakukan pilihan. Apabila Tuanku menjatuhkan pilihan pada Denda Bunga, kita pasti tidak mengecewakan Raja Kentawang." 

Keesokan harinya, setelah rombongan berada di lstana, Raja Pejanggiq pun mengamati kedua putri itu. Ia menilik wajah dan pakaian Denda Terong Kuning dan Denda Bunga, serta kesan semalam dari berita yang disampaikan oleh Banjar Getas, Raja Pejanggiq pun menjatuhkan pilihannya pada Denda Bunga. Setelah mendengar keputusan dari sang raja, Banjar Getas pun mengemukakan pendapatnya bahwa kurang layak kalau Denda Terong Kuning dikembalikan demikian saja ke ayahandanya. Sangat bijaksana kalau Raja Pejanggiq mengizinkan dirinya saja yang  untuk mengawini Denda TerongKuning. Raja pejanggiq pun merestui itu setelah itu berlangsunglah pesta perkawinan antara Raja Pejanggiq dan Denda Bunga. Kemudian, keesokan harinya dilaksanakan pula upacara perkawinan antara Denda Terong Kuning dan Arya Banjar Getas. Ketika pernikahan Banjar Getas berlangsung, penghulu yang memimpin upacara itu sangat heran dan terkejut saat melihat kecantikan Denda Terong Kuning. Kecantikannya jauh melebihi kecantikan Denda Bunga. Penghulu itu merasakan lebih layak istri Banjar Getas ini menjadi permaisuri Raja Pejanggiq.


 Peristiwa dan kesan itu pun menjadi buah bibir masyarakat dan akhirnya terdengar pula di telinga Raja Pejanggiq. Di hadapan Raja Pejanggiq, penghulu itu menyampaikan "Sewaktu hamba diminta kesediaannya untuk menikahkan, hamba melihat calon pengantin wanita sedang bersisir. Rambutnya sangat panjang. Kalau ujungnya tidak disangga pasti akan menyapu tanah." 

Ketika mendengar laporan itu, timbullah niat Raja Pejanggiq untuk melihatnya. Semua wanita Kerajaan Pejanggiq diundang agar datang ke istana membawa sensek (alat tradisional untuk menenun). Khusus istri Banjar Getas diundang agak terlambat. Setelah tiba di istana, tempat yang tersedia telah penuh. Denda Terong Kuning diperintahkan untuk datang ke serambi Raja Pejanggiq. Ketika melihat kecantikan Denda Terong Kuning, terbit perasaan busuk di dalam hati sang raja. Ia berniat memperistrinya. Para wanita lain mulai menenun. Setelah selesai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah DendaTerong Kuning seorang diri. Raja pun mulai mendekatinya. Ia mengeluarkan beberapa kata pujian dan bujukan. Setelah itu raja menjelaskan niatnya untuk memperistri. Oleh karena perlakukan sang raja itu, Denda Terong Kuning menjadi gelisah dan bergerak hendak melarikan diri kembali ke rumahnya. Pada saat itu Raja Pejanggiq memburu dan berhasil merampas selendang Denda Terong Kuning. Selendang itu selalu dipergunakan oleh sang raja di tempat yang tersembunyi.

 Denda Terong Kuning pun menceritakan semua peristiwa tersebut kepada Banjar Getas. Akan tetapi, Banjar Getas tetap bersikap tenang dan menasihati istrinya agar tetap berusaha menjaga kesucian diri dan bersikap selalu waspada Kegagalan itu menyebabkan Raja Pejanggiq selalu berupaya dan dengan penuh napsu mencari jalan lain. Raja pun mengumumkan akan menyelenggarakan suatu pesta besar. Oleh karena itu, Banjar Getas pun dipanggil dan diperintahkan berangkat ke Pulau Bali untuk belajar ilmu Tata Negara . Ketika mendapat perintah dari sang raja , Banjar Getas pun berangkat tanpa berprasangka. Oleh karena hari sudah malam, Banjar Getas pun akhirnya bermalam di istana di suatu tempat. Saat tidur nyenyak  di situ dia  bermimpi bahwa dalam mimpinya dia di perintah untuk kembali ke Pejanggiq sebab kalau tidak maka akan terjadi suatu musibah. Saat yang sama, Raja Pejanggiq berusaha menemui Denda Terong Kuning di tempat kediamannya . Akan tetapi, Denda Terong Kuning adalah seorang wanita yang iman yang kuat dan bermoral mulia, serta menjunjung tinggi  harga diri dan kehormatannya . Ia pun menolak untuk membuka pintu. Rencana Raja Pejanggiq pun menjadi gagal pada malam itu. Keesokan harinya, Banjar Getas pun kembali ke Pejanggiq. Setelah malam hari, ia baru bisa samoai dirumahnya. Ia pun memanggil istrinya minta dibukakan pintu.tapi terdengar jawaban dari dalam " Tak layak orang datang karena suamiku tak ada di rumah." 

"Terong Kuning," kata Banjar Getas, "Aku ini aku suamimu, bukakanlah akupintu." 

''Tidak!, suamiku pergi ke Bali," kata Denda Terong Kuning dengan tegas karena ia yakin suaminya telah berangkat ke Bali. 

Oleh karena itu, Banjar Getas pun kehilangan kesabaran dan akhirnya mendobrak pintu dengan keras. Ketika pintu terbuka, Banjar Getas pun segera mendekati  merangkul istrinya dengan mesra. "Mengapa kau tak mau membukakan pintu wahai istriku, kekasihku? Tidakkah kau kenali suaraku?" 

"Bukan tak mau wahai  suamiku. Akan tetapi, semalam Datu Pejanggiq berbuat hal yang sama. Beliau minta dibukakan pintu. Namun, aku tak mau membukanya karena aku tahu maksudnya." kata Dende Terong Kuning mengadu pada Banjar Getas suaminya.

Keesokan harinya pagi-pagi benar, Banjar Getas pun menghadap kepada rajanya. Ia melaporkan bahwa keberangkatannya ke Pulau Bali menjadi gagal karena gelombang laut amat besar dan menyebabkan sampan tak berani menyeberang. Meskipun demikian, semu pesta dan keramaian masih berjalan tujuh hari tujuh malam Setelah itu, Raja Pejanggiq kembali berpikir mencari akal untuk memiliki Denda Terong Kuning. Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk membunuh Banjar Getas. Semua pembesar negeri pun diperintahkan untuk berangkat berburu, termasuk Banjar Getas. Dalam perjalanan, Banjar Getas diperintahkan berjalan paling depan setelah Raja Pejanggiq. Akan tetapi, Banjar Getas mempunyai firasat kurang enak, ia menolak berjalan di depan sang raja. Raja Pejanggiq memaksanya dengan jalan menarik kekang kuda Banjar Getas. Saat itu, sekilas Banjar Getas melihat selendang istrinya dipakai oleh Raja Pejanggiq. Yakinlah kini Banjar Getas bahwa dirinya terancam  bahaya dan merasa marah  karena RajabPejanggiq seolah menantang, pertempuran antara Banjar Getas dan Raja Pejanggiq pun terjadilah.Keduanya sama gesit, sama sigap, dan sama tangkas. 

Pertempuran itu akhirnya berkembang menjadi ramai. Pengikut masing-masing melibatkan diri ke dalam gelanggang. Banjar Getas dengan pengikutnya yang berjumlah 44 orang itu bertahan dengan gigih menghadapi serangan bala tentara Raja Pejanggiq. Akan tetapi, jumlah lawan cukup banyak. Akhirnya, Banjar Getas dan pengikutnya mengambil siasat untuk mundur. Sejak saat itu, Banjar Getas tak mau lagi tunduk kepada Raja Pejanggiq dan terus mengadakan sikap permusuhan. Merasa tidak puas dan tidak aman selama Banjar Getas masih hidup, sulit bagi raja untuk memperoleh dan memperistri Denda Terong Kuning . Oleh karena itu, Raja Pejanggiq pun mengirim utusan untuk meminta bantuan ke Pulau Bali dengan dalih untuk memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Banjar Getas. Berita itu pun tersiar luas di masyarakat dan terdengar pula oleh Banjar Getas. Oleh karena itu, Banjar Getas membuat suatu siasat. Ia berangkat ke pesisir pantai sebelah barat sambil  menggembalakan itik, satu versi mengatakan ia menyamar dengan cara memancing ikan di pantai . Waktu menggembala atau memancing sambil membuat sesuatu yang disebut ampen. ltulah sebabnya hingga saat ini tempat pantai tempat Banjar Getas membuat ampen ini diberi nama Pantai Ampenan berasal dari kata 'ampen' yang dibuat oleh Banjar Getas. Disamping menunggu kedatangan bala bantuan dari Bali, Banjar Getas membuat kandang itik di suatu tempat. Tempat itu hingga saat ini dinamakan Repoq Bebek. Akhirnya, tibalah saat yang dinantikan. Bala bantuan dari Pulau Bali telah tampak mendekati pantai untuk mendarat. Banjar Getas pun mulai menjalankan siasatnya. Ia langsung menyongsong pasukan yang mendarat itu. Dengan ramah tamah, ia menyapa dan mengemukakan niatnya untuk bertemu dengan Anak Agung, pemimpin rombongan. Setelah berbicara berdua Banjar getas pun memulai. 

"Selamat datang di Negeri Sasak tuanku , Anak Agung. Kalau boleh hamba bertanya ke manakah tujuan Tuanku? Hamba bersedia penunjuk jalannya untuk mempermudah perjalanan Tuanku." 

"Saudara amat baik. Terima kasih atas uluran tanganmu. Benarkah kau mau membantu kami?" 

"Mana mungkin hamba berbohong kepada Tuanku. Hamba tahu 

apa hukumannya kalau hamba membohongi Tuanku. Akan tetapi,kalau boleh hamba tahu kemanakah Tuanku hendak pergi?" 

"Aku hendak pergi ke Kerajaan Pejanggiq." 

"Ada apakah Tuanku mau kesana?. Kerajaan itu amat jauh." 

"Aku diminta datang untuk membantu Raja Pejanggiq memadamkan pemberontakan." 

"Pemberontakan apakah yang dimaksudkan itu, Tuanku? Sepanjang pengetahuan hamba Negeri Pejanggiq sangat aman?."

Hanya kadang-kadang Raja Pejanggiq sendiri bertindak lancang kepada bawahannya." 

"Berani benar kau berkata seperti itu. Nada suaramu menyalahkan Raja Pejanggiq." kata Anak Agung (Raja Bali)

"Benar, Tuanku. Apa yang hamba katakan ini adalah benar. Hamba tahu apa hukumannya kalau hamba berkata tidak benar. Di Negeri Pejanggiq tidak pernah terjadi pemberontakan. Hamba tahu benar." 

"Ternyata, kamu bohong. sebab Raja Pejanggiq mengatakan bahwa pemberontakan dilakukan oleh seseorang bernama Banjar Getas. Mustahil seorang raja seperti itu memberikan laporan palsu dan meminta bantuan." 

"Memang terjadi sedikit huru hara, Tuanku. Namun, bukan merupakan pemberontakan. Huru hara itu pun terjadi hanya karena kekeliruan Raja Pejanggiq. Tuanku diminta bantuan untuk menumpas orang yang tidak bersalah. Hamba mengetahui benar persoalannya." 

"Kalau benar apa yang kaukatakan, cobalah ceritakan sejelas-jelasnya Padaku." kata Raja (Anak Agung).

Banjar Getas pun mulai menceritakan semua persoalan dengan sungguh-sungguh dan setulus hati. Akhirnya, ia pun berkata 

"Setelah hamba menceritakan persoalan dengan sebenarnya, kini terserahlah, Tuanku. Kalau Tuanku masih mau menumpas orang yang bernama Banjar Getas, inilah orangnya. Hambalah Banjar Getas, seorang yang tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun tetapi dicintai oleh rakyat yang setia kepada kebenaran tata krama dan moral. Hamba tak berdaya. Sekarang pun hamba menyerah dan siap untuk dihukum. Akan tetapi, apabila Tuanku setia kepada kebenaran, maka itu tidak akan tuan lakukan sebab Tuanku telah dibohongi oleh Raja Pejanggiq untuk menumpas orang yang tak patut ditumpas. Kini semuanya telah jelas. Apabila Tuanku berkenan marilah kita hancurkan Raja Pejanggiq yang melanggar susila itu, Hamba beserta pengikut setia hamba akan siap sedia bersama-sama menghadapi Raja Pejanggiq itu." 

Akhirnya, Anak Agung yakin akan kebenaran kata-kata Banjar Getas dan akhirnya sepakat untuk bekerja sama menyerang Pejanggiq. Ketika Raja Pejanggiq datang bersama dengan pasukannya untuk menyambut kedatangan Anak Agung dari Bali, beliau amat terkejut karena ternyata Anak Agung telah bergabung dengan Banjar getas. Terjadilah pertempuran yang amat seru. Kedua belah pihak sama kuat. Akhirnya, pasukan Raja Pejanggiq merasa terdesak. Sang Raja meminta bantuan kepada Patih Seketeng dari Lamben Pujut. Patih ini kemudian mengamuk bagaikan banteng kesurupan sehingga menyebabkan pihak lawan banyak yang mati. Namun, akhirnya Patih Seketeng pun tertangkap dan diputuskan untuk dibunuh. Segala macam senjata dipergunakan untuk menikamnya tetapi satu pun yang mempan. Ia pun dibakar dengan setumpukan ijuk, tetapi tak sehelai bulu pun yang hangus. Akhirnya, patih itu dapat meloloskan diri. Oleh karena itu, pasukan Raja Pejanggiq kembali menjadi kuat dan menyebabkan pasukan Anak Agung dan Banjar Getas kewalahan. Banjar Getas dan Anak Agung mengambil siasat menyerah. 


Kesempatan itu digunakan untuk menyusun kembali kekuatan baru dan mengatur siasat selanjutnya. Banjar Getas menjalankan siasat untuk memisahkan Patih Seketeng dengan RajaPejanggiq. Disiarkanlah suatu berita bahwaPatihSeketeng berniat untuk merebut kekuasaan. Ketika mendengar berita  itu, Raja Pejanggiq kurang selidik. Berita itu diterima dengan mentah-mentah. Dia pun Lalu memerangi Patih Seketeng, tetapi tak berhasil karena Patih Seketeng tak termakan oleh senjata apa pun. Namun , perlakuan itu menyebabkan Patih Seketeng jemu. Dia tidak tega menghadapi rajanya . 

"Nah, kalau Tuan bermaksud membunuh hamba yang tak 

bersalah ini, pergunakanlah senjata ini." Ia pun menyerahkan senjata yang terbuat dari buluh gading. "Hanya senjata inilah yang dapat mencabut nyawa hamba. Tusuklah telapak kaki hamba." Raja Pejanggiq pun mengambil senjata itu dan menusukkan ke telapak kaki Patih Seketeng. Patih Seketeng pun langsung menghembuskan nafas terakhirnya. 

Setelah kematian Patih Seketeng tersiar, Banjar Getas dan Anak Agung pun mengumumkan perang kembali kepada Pejanggiq. Dalam peperangan yang tak tertahankan itu, Pejanggiq menderita kekalahan. Raja Pejanggiq sempat melarikan diri menuju ke suatu tempat. Dari tempat itu, ia dapat menyaksikan api berkobar memusnahkan istana Pejanggiq. Di tempat itu pula Raja Pejanggiq menghilang. Kemudian, tempat itu dinamakan Seriwa.




Posting Komentar

0 Komentar