Terdapat berbagai versi mengenai cerita legenda ini kemungkinan versi-versi tersebut terbentuk melalui faktor berbedanya dialek bahasa Sasak yang terbagi ke dalam 4 dialek, Bayan, Selaparang, Pejanggik dan Pujut atau bahkan bisa juga terbentuk dan terolah oleh faktor geografis dimana sang pendongeng atau pembawa cerita legenda ini berada. Namun walaupun demikian, adanya perbedaan dalam penceritaan tapi pasti dapat dipastikan akan adanya titik temu dalam masing-masing alur penceritaan sebab bagaimanapun juga pencerita asli tentulah mulanya adalah satu orang. Terlepas dari semua itu, saat ini saya (penulis) hanya ingin menyuguhkan cerita yang sesuai dengan Bahan Ajar Muatan Lokal yang diajarkan di Sekolah Dasar (SD) kelas V (lima) yang pernah sempat penulis baca, karena menurut hemat penulis paling tidak ini kemungkinan besar lebih di kenal karena telah di baca oleh para siswa secara lokal dan keseluruhan khususnya di lingkungan Sekolah Dasar dan sederajat dan umumnya seluruh masyarakat Sasak di pulau Lombok yang mulanya melalui secara lisan (mendongeng) lalu di tulis menjadi sebuah buku. Beginilah jalan ceritanya...

Pada zaman dahulu di Pulau lombok tinggal seorang kakek tua bersama seorang cucunya yang bernama Balang Kesimbar. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka hidup sebagai petani penggarap atau buruh tani yang hanya memperoleh upah dari menggarap sawah. Balang Kesimbar tinggal bersama kakeknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat wabah penyakit yang ganas menyerang desa tempat tinggalnya.
Ketika itu Balang Kesimbar masih sangat kecil. Ia diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Dengan penuh kesabaran sang Kakek mengasuh dan mendidik Balang Kesimbar. Meskipun kehidupan mereka serba kekurangan, akan tetapi kakeknya tidak pernah mengeluh dan putus asa.
Balang Kesimbar mendapat pendidikan yang cukup berupa pendidikan akhlak dan budi pekerti. Ia diasuh dan diajar tata cara bergaul dan kesopanan serta agar selalu tabah dan sabar menghadapi ujian hidup. Di samping dididik oleh kakeknya sendiri, dia juga diserahkan belajar ilmu agama kepada seorang guru di kampungnya. Berkat pendidikan itu, ia dapat hidup dan bergaul di tengah masyarakat dengan budi pekerti yang baik. Balang Kesimbar tergolong anak yang rajin, tekun dan penyabar. Mengingat kakeknya yang sudah lanjut usia, ia berusaha membantu kakeknya dalam menyiapkan segala keperluan hidup yang apa adanya.
Setelah Balang Kesimbar berusia remaja ia dapat bergaul di tengah masyarakat dengan baik, disebabkan asuhan dan pendidikan yang telah diterimanya. Ia selalu menghargai orang-orang tua di desa itu.
Balang Kesimbar disegani juga oleh teman sebayanya. Pada suatu malam Balang Kesimbar mendengar berita dari teman-temannya bahwa di istana sedang diselenggarakan pertunjukan wayang kulit. Dalang yang tampil malam itu adalah dalang yang sangat terkenal. Lagi pula lakon ceritra yang akan dipentaskan adalah ceritra yang sangat bagus yaitu cerita bel Serat Menak yang mengisahkan Jayeng Rane waktu kecil.
“Bagaimana pendapatmu Balang, jika nanti malam kita berangkat bersama ke tempat pertunjukan wayang ?”, kata kawan-kawannya.
“Baiklah, aku memang sangat ingin menonton wayang, tetapi berangkatlah kalian lebih dahulu. Aku akan menyelesaikan kebutuhan kakekku. Setelah itu barulah aku datang .
Balang Kesimbar segera pulang untuk mempersiapkan kebutuhan kakeknya. Dengan cepat ia menyediakan air, menanak nasi dan mempersiapkan tempat tidur. Setelah semua siap ia pun meminta izin kepada kakeknya.
“Kek, Izinkanlah aku menonton wayang di istana. Kata kawan-kawan dalangnya amat terkenal dan akan melakonkan ceritra yang amat baik. Telah lama aku tak pernah menonton wayang. Lebih-lebih cerita tentang Jayeng Rane masa kecil. Inilah kesempatan baik bagiku untuk menontonnya. Apakah Kakek mengizinkan aku?”.
“Tentu, cucuku. Berangkatlah ke tempat pertunjukan itu. Tetapi jagalah dirimu baik-baik. Jangan sampai terlibat kalau terjadi sesuatu kegaduhan, perkelahian ataupun yang lain-lain”.
Setelah memperoleh izin Balang Kesimbar segera berangkat ke tempat pertunjukan. Tetapi sayang, ia datang terlambat. Pintu gerbang telah ditutup karena penonton penuh sesak. Barang Kesimbar berusaha mencari jalan masuk lain tetapi tak berhasil, karena pintu masuk hanya satu. Barang Kesimbar pun berteriak-teriak mengitari tembok, tetapi tak seorang pun mendengar teriakannya. Semua orang sedang asyik menonton. Putus segala harapannya untuk dapat masuk ke arena pertunjukan. . Demi melepaskan kekecewaannya, Balang Kesimbar duduk di depan pintu gerbang sambil merenungkan apa yang harus dikerjakan. Di tempat itu juga banyak orang lalu-lalang, tetapi tak seorang pun yang menyapanya. Tanpa sengaja, ia melihat sepotong arang tidak jauh dari tempat duduknya. Balang Kesimbar mengambil potongan arang dan mencoba menoreh-noreh di tembok istana. Ia tak berpikir apa yang harus ditulis, namun tangannya tiba-tiba menggambar sesuatu yang aneh.
Malam larut ketika Balang Kesimbar tiba di rumah. Kakeknya belum tidur. Sang kakek merasa bingung mengapa secepat itu cucunya pulang. Tetapi setelah Balang Kesimbar menceritakan sebab-sebabnya, kakekn merasa puas dan segera mengajak Balang Kesimbar untuk tidur, agar badan tetap segar dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik esok hari. Menjelang pagi ketika pertunjukan selesai, maka para penjaga kebersihan istana mulai melakukan tugas yaitu membersihkan sampah sampah yang berserakan karena penonton amat ramai. Ketika tiba di pintu gerbang, petugas istana sangat terkejut. Ia terkejut melihat coretan pada tembok istna. Setelah diamati ternyata coretan itu berbentuk seekor macan yang amat ganas, dan bermata tujuh .

Dua buah mata terdapat di kepala seperti lazimnya, dua buah terdapat pada kedua sisi pinggang, dua buah lainnya terdapat pada pantat, sedang sebuah lagi terdapat pada ekor. Melihat hal itu petugas berpikir dalam hati. “Siapakah gerangan yang berani sekali menggambar pada tembok ini. Memang gambarnya bagus, tetapi kalau diketahui oleh baginda raja, pasti beliau akan murka. Ketimbang aku sendiri yang kena marah, lebih baik hal ini kulaporkan”.
Setelah berpikir demikian, ia pun segera menghadap dan melaporkan apa yang dilihatnya.
“Ampun tuanku. Hamba hendak menceritakan suatu hal”.
“Tentang apa”?, tanya raja
“Ampun tuanku. Di tembok pintu gerbang terdapat sebuah gambar macan yang sangat menyeramkan. Hamba takut kena marah oleh Tuanku, karena itu sebaiknya silakan Tuanku menyaksikan sendiri gambar itu”.
Mendengar laporan itu, dengan seketika raja berangkat untuk membuktikannya. Setelah tampak olehnya gambar itu raja pun berkata “Siapa yang melakukan perbuatan ini. Tidakkah ia tahu bahwa sipapa pun dilarang mencoreng tembok ini? tetapi aku melihat gambar ini sangat bagus. Siapa gerangan yang menggambar macan ini ? Tapi siapa pun dia, harus bertanggung jawab. Ia harus mencari macan seperti yang terlihat pada gambar itu. Macan bermata tujuh yang kelihatan aneh. Bila gagal menemukannya nyawanya sebagai pengganti. Kini kuperintahkan untuk mencari yang melakukan perbuatan ini sampai dapat!”, kata sang Raja kepada prajuritnya.
Sesungguhnya raja sangat kagum akan kebagusan gambar itu. Ketika melihatnya untuk pertama kali, raja terkejut dan hampir lari. Tampaknya garam seperti macan yang sesungguhnya. Raja benar-benar heran dan penasaran kepada pelukisnya. Menerima perintah langsung dari raja, petugas itu pun langsung mencari tahu, ia mendatangi rakyat kemudian ditanya satu persatu. Dari sekian banyak rakyat yang ditanya mengenai orang yang melukis di tembok istana, sebagian besar menyatakan tidak tahu. Seketika muncul seseorang yang memberikan laporan bahwa tadi malam Balang Kesimbar tampak tidak menonton dan duduk-duduk persis di depan tembok tempat lukisan itu. Mungkin saja dia yang melakukan perbuatan itu. Tetapi orang itu menambahkan, bahwa Balang Kesimbar masih sangat muda, jadi tidak berani menjamin ia mampu melukis begitu bagus, karena ia juga bukan anak yang tergolong cerdas. Walaupun demikian, petugas istana mencari dan menemukan Balang Kesimbar dan berkata “Hai Balang Kesimbar, Saat ini juga kau harus menghadap ke istana. Raja kita hendak menanyakan sesuatu kepadamu!”.
“Baik Tuan ” jawab Balang Kesimbar tanpa banyak tanya seraya bersiap berangkat menuju istana. Setiba di istana Balang Kesimbar melihat banyak orang. Ia bertanya dalam hati. “Ada apa gerangan ?” Ketika di hadapan sang Raja itu ia ditanya langsung oleh raja “Siapakah kamu ini anak muda ?”
“Hamba bernama Balang Kesimbar Tuanku”.
“Apakah kau yang menggambar di tembok gerbang itu?”, tanya raja.
“Benar tuanku. Hambalah yang menggambarnya ”, jawab Balang Kesimbar dengan tenang.
“Apa sebab kau begitu berani menggambar di tempat itu? Bukankah itu tembok gerbang istana?. Tidakkah kau mengetahui bahwa dilarang untuk mencoreng-coreng tembok istana? Tetapi karena kau telah mengakui perbuatanmu, sekarang kau kutugaskan mencari seekor macan seperti yang telah kau gambar itu. Macan yang terlihat garang dengan mata buah mata. Ingatlah Balang, jika kau gagal menemukan macan bermata tujuh itu maka nyawamu menjadi penggatinya. Nah, berangkatlah!”
Balang Kesimbar segera kembali ke rumahnya.
Tak henti-henti ia berpikir, bagaimana mungkin ia berhasil mencari binatang seperti yang telah ada digambarnya, karena ia hanya mencoret-coret mengikuti hati nurani dan guratan tangan. Setelah tiba di rumah, Balang Kesimbar menceritakan hal itu kepada kakeknya. Ia pun meminta nasehat untuk mengatasi beban yang ditimpakan kepadanya.
“Cucuku, Balang Kesimbar. Semua tugas yang dibebankan raja kepadamu, haruslah kau laksanakan sebaik-baiknya. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun sulitnya harus kau laksanakan. Kita harus menunjukkan kesetiaan kepada raja yang kita cintai. Aku pun tak mengetahui di tempat mana macan semacam itu dapat kia ditemukan. Mungkin sekali macan semacam itu tidak pernah ada. Kalaupun ada pasti sangat sulitlah untuk menangkapnya. Tetapi janganlah kau berputus asa cucuku, sebab semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Berangkatlah besok pagi dan kakek akan tetap mendoakan agar usahamu dapat berhasil. Segala keperluan perjalanan akan kupersiapkan malam ini juga. Kini beristirahatlah dengan tenang”.
Esok hari ketika pajar mulai menyingsing, dan embun telah melepaskan diri dari dedaunan, Balang Kesimbar dibangunkan oleh kakeknya. Setelah memohon restu kepada orang tua itu, Balang Kesimbar turun dari rumah dan memulai pengembaraan untuk menyelesaikan tugas yang amat berat. Lama ia dalam perjalanan dan menemukan berbagai rintangan yang berat. Ia masuk hutan keluar hutan, menuruni lembah dan mendaki tebing. Sepanjang jalan ia kehausan dan kelaparan.Ia berjalan seakan tanpa arah dan tujuan pasti.
Di dalam hati ia terus berpikir, ” Mana mungkin harimau itu kutemukan, tetapi… mengapa akau melukis nya dengan begitu saja? Ada rahasia apa dengan lukisan itu? Pertanyaan semacam itu terus mengganjal di benaknya. “. Setelah melewati beberapa hutan belantara, di depannya ia melihat padang tandus yang begitu luas Ia berkata dalam hati ”Kalau aku melintasinya juga pasti badanku akan binasa. Jalan lain tak ada lagi di kiri kanan ku terdapat sungai yang amat dalam. Aduh, apa akalku sekarang?”.
Dalam keadaan yang sulit itu ia teringat kepada bekal yang dipersiapkan kakeknya. Bekal itu dibungkus dengan lepe/ mayang (seludang daun pinang) yang telah dihaluskan dan diikat dengan tali peninggalan ibu Balang Kesimbar. Dalam bungkusan makanan yang dikemas oleh kakenya itulah tersimpan kekuatan ghaib yang dapat menolong Balang Kesimbar mengatasi berbagai kesulitan. Setelah memusatkan cipta sejenak, bungkusan itu dilemparkan sekuat tenaga. Kemudian ia menggantung diri pada benang pengikatnya. Dengan berkah pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, Balang Kesimbar terangkat ke atas, menggelantung di angkasa sehingga berhasil menyebrangi padang yang berbahaya itu dengan selamat.
Perjalanan dilanjutkan lagi. Ia tidur di mana saja kemalaman. Ia berusaha makan sehemat mungkin untuk menjaga jangan sampai kehabisan bekal dalam pengembaraan yang tidak menentu ini. Setelah berjalan beberapa lama ia tiba di sebuah padang yang lain. Padang itu dipenuhi dengan kalajengking yang amat berbisa dan tak terbilang banyaknya. Balang Kesimbar merasa ngeri menyaksikan hal itu.
“Apa akalku sekarang ?”, pikirnya.
Pada saat itu, lagi-lagi Balang Kesimbar mempergunakan bungkusan yang dibawanya. Sambil memohon dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, bungkusan itu dilemparkan setinggi-tingginya ke udara seraya memegang benang pengikatnya dengan kuat. Dan ia pun berhasil melewati padang kalajengking itu dengan selamat.
Balang Kesimbar pun melanjutkan perjalanan yang berat ini. Semua rintangan dihadapinya dengan sabar dan tabah disertai keyakinan akan hasil perjalanan ini. Beberapa lama kemudian kembalilah Balang Kesimbar berada di tepi sebuah padang. Padang itu dipenuhi dengan ular berbisa. Semua jenis ular berbisa terdapat di dalamnya. Untuk mengatasi kesulitan baru ini, Balang Kesimbar melakukan hal serupa seperti yang pernah dilakukansebelumnya. Ia berhasil lolos dari mara bahaya.
Rintangan demi rintangan dilaluinya dengan baik. Bahaya demi bahaya dapat diatasinya dengan selamat. Tetapi, rintangan dan bahaya masih belum habis juga. Dalam perjalanan selanjutnya ia melihat seorang raksasa yang amat besar. Tetapi untunglah raksasa itu sedang tidur dengan pulasnya. Dan Balang Kesimbar pun berkata dalam hati.
“Untunglah raksasa itu sedang tidur. Kalau tidak pasti aku binasa karenanya. Tampaknya sangat mengerikan”.
Untuk mengatasi kesulitan itu Balang Kesimbar kembali pergunakan bungkusan tadi dan berhasil dengan selamat. Ia telah melewati raksasa itu dengan aman.
Dan Balang Kesimbar pun melanjutkan perjalanan dengan cepat. Kekhawatiran masih saja melintas dalam hatinya. Ia khawatir kalau raksasa yang tengah tidur itu tiba-tiba terjaga dan mencium bau badannya. Tetapi akhirnya Balang Kesimbar tiba pada sebuah padang yang sangat kering. Rumputpun tak dapat tumbuh di atasnya. Panasnya tak terkatakan lagi. Tanahnya terdiri dari tanah sari yang sangat gembur. Padang ini harus disebrangi. Terasa keraguan dalam hati Balang Kesimbar. Terselip juga niat untuk kembali. Tetapi perjalanan sudah amat jauh. Betapapun padang ini harus disebrangi.

Setelah membulatkan tekat dan memohon keselamatan Tuhan Yang Maha Kuasa Balang Kesimbar pun mulai melangkahkan kakinya memasuki padang itu. Setelah berjalan beberapa langkah, kakinya tenggelam ke dalam tanah, hingga ke lutut. Panasnya tak terkatakan lagi. Tetapi karena tekad telah membaja, Balang Kesimbar tak mundur walau selangkah.Dengan susah payah ia tetap melangkah maju. Kini badannya mulai tenggelam ke dalam panas itu. Tanah telah mencapai pinggang. Tetapi ia tetap berusaha untuk maju. Dan ia tenggelam makin jauh. Akhirnya tanah tersebut telah mencapai batas leher. Kini ia hampir tak sadarkan diri.
Pada saat yang paling keritis ini, tiba-tiba angin puyuh atau puting beliung dahsyat melanda padang itu. Semua yang berada di dalamnya diterbangkan. Demikian pula Balang Kesimbar tak luput dari sasarannya . Ia diterbangkan entah kemana. Tiba-tiba ia meluncur jatuh dan berada di atas sebatang pohon sawo. Ketika membuka mata ia merasa heran. Dan sadarlah ia akan apa yang telah terjadi. Kemudian ia memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kini ia sadar bahwa perjalanannya selalu mendapat perlindungan dariNya. Karena merasa sangat payah, ia pun beistirahat di atas pohon itu.
Beberapa saat kemudian tatkala Balang Kesimbar terbangun ia mendengar suatu suara.
“Suara apakah itu?”, tanyanya dalam hati. “Ada jugakah manusia lain di tengah hutan belantara ini?”. Ia mencari arah suara itu. Ia memasang telinga dengan baik. Benar. Ia mendengar suatu suara. Sumbernya tak jauh dari tempat itu. Setelah diperhatikan dengan seksama jelaslah baginya suara itu suara alat tenun.
Ketika pandangannya terarah ke bawah pohon sawo, ia melihat seseorang.
“Siapakah berada di bawah? Jin atau manusia?”, tanya Balang Kesimbar di dalam hati. Ia berusaha menenangkan jiwanya. Setelah beberapa saat berlalu, ia kembali memperhatikan apa yang telah dilihatnya tadi. Apa yang dilihatnya ternyata tak berubah. Seorang wanita yang tengah menenun. Karena asyik dalam pekerjaan, ia tidak mengetahui seseorang berada di atasnya. Balang Kesimbar mengambil sebiji buah sawo yang kecil. Ia berniat menggoda wanita itu dengan tingkahnya. Ia ingin membuat wanita itu terkejut. Lalu dilemparkannya buah sawo itu kearah wanita itu. Tetapi tidak mengenai sasaran. Buah itu terjatuh di depan wanita itu. Lalu Balang Kesimbar mengambil buah yang kedua. Buah itupun dilemparkan. Tetapi tidak mengenai sasaran lagi. Buah terjatuh disamping wanita itu. Dengan tidak merasa curiga, wanita itu memandang buah sawo yang jatuh itu. Buah yang ketiga diambil oleh Balang Kesimbar, dan kembali dilemparkan kepada wanita itu. Tetapi masih juga gagal. Buah itu jatuh disamping kanan. Bersamaan dengan itu wanita itu memandang ke atas. Ia amat terkejut melihat seorang pemuda berada di atasnya. Berbagai pikiran berkecambuk di dalam hatinya. Dengan cepat ia berkata.
“Hai lelaki, cepatlah turun sebelum kakekku kembali. Kalau ia mengetahui ada manusia lain di tempat ini, pasti musnah dimakannya. Ketahuilah kakekku adalah seorang raksasa”.
Mendengar kata-kata itu Balang Kesimbar turun dengan segera.
“Pastilah raksasa itu yang telah kujumpai dalam perjalanan bisik hatinya. Setelah saling sapa dan berkenalan, Balang Kesimbarpun menceritakan kisahnya dari awal hingga berada di atas pohon sawo itu. Setelah itu, wanita tadi yang ternyata seorang putri, menyuruh Balang Kesimbar agar menyiram tubuhnya dengan air jeruk, untuk mengurangi bau. Setelah itu, Balang Kesimbar dimasukkan ke dalam sebuah peti. Tak lama kemudian raksasa itu pun datang. Segera setelah kembali, ia merasa bahwa seorang manusia lain berada di tempat itu.
“Cucuku, aku mencium bau manusia lain di tempat ini. Aku sungguh gembira dengan tak bersusah payah, santapan telah berada diujung hidung”.
“Kek, yang kakek cium itu adalah bauku. Kalau berniat menyantapku, santaplah sekarang juga”.
“O, tidak. Aku tak akan tega memakan dagingmu. Kau sangat kusayangi. Sukar mencari cucu secantik kau. Nah, sekarang cobalah katakan apa keinginanmu. Akan kucarikan secepatnya”.
“Terima kasih, kek. Carikanlah aku buah-buahan yang masih segar. Aku sangat ingin memakannya”.
Dengan singkat diceritakan raksasa itu pun terbang ke suatu tempat yang ditumbuhi berbagai jenis buah-buahan. Tak lama kemudian ia pun telah kembali dengan membawa berbagai jenis buah-buahan, berupa buah manggis, salak, durian, duku, dan lain-lain.
“Nah, sekarang apalagi yang kau ingini cucuku?”.
“Kek, kalau benar kakek sayang padaku, carikanlah aku daging rusa yang segar. Aku sangat ingin menikmatinya. Maukah kakek?”.
“Tentu, tentu. Sekarang juga akan kucarikan. Daging rusa bukanlah daging yang sukar diperoleh. Sebentar lagi pasti aku telah datang membawanya”. Dan raksasa itu pun berangkatlah.
Segera setelah raksasa itu berangkat, Balang Kesimbar pun dikeluarkan dari dalam peti. Dan disuguhi hidangan secukupnya. Kemudian ia dimandikan dengan air jeruk. Setelah itu kembali di masikkan ke dalam tempat semula.
Tak lama kemudian raksasa itu telah kembali.
“Ha, cucuku. Pasti ada manusia lain di tempat ini. Sedap benar baunya. Kini aku akan dapat menyantap daging manusia lagi”.
“Bukan, Kakek. Yang kakek cium itu pastilah bauku sendiri. Bila kakek berniat menyantapku, santaplah”.
“O, tidak. Sedikitpun tak ada niatku untuk memakanmu. Aku tidak gila memakan cucuku sendiri. Apalagi kau cantik sekali dan amat kusayangi. Tetapi apakah yang kau ingini lagi? Katakanlah cucuku”.
“Ah, kakek, terlalu baik hati. Kakek telah terlalu payah. Lebih baik kakek beristirahat terlebih dahulu. Bukankah makanan masih cukup banyak. Bagaimana kalau aku mencari kutumu, kek. Bukankah telah lama aku tak pernah mencarinya. Barangkali jumlahnya terlalu banyak”.
“Baik, cucuku. Benar katamu. Kutuku pasti telah banyak”.
Demikianlah ia pun mulai mencari kutu di kepala raksasa itu. Raksasa itu pun merasa senang dan nyaman.
“Kek, kutu kakek bukan main besarnya. Sungguh luar biasa. Mengapa dibiarkan saja, kek?”
“Ah, cucuku. Kutu itu memiliki suatu rahasia. Tak seorangpun boleh mengetahuinya. Kalau rahasia ini bocor, pastilah kakek akan binasa”.
“Sungguh anaeh. Mengapa demikian, kek?”, tanya putri itu.
“Nah, dengarkanlah, kata raksasa itu kemudian. “Semua yang berada di kepalaku ini, jika dilepaskan dapat berubah menjadi semacam panah. Kutu yang besar itu, jika dilepas dapat menjadi panah batu. Rambutku yang putih bisa berubah menjadi panah apa saja yang diingini. Sedangkan ketobeku bisa berubah menjadi panah kabut”.
Setelah mendengar keterangan raksasa itu, ia pun melanjutkan pekerjaannya, mencari kutu seperti biasa. Tetapi secara diam-diam ia menyembunyikan kutu, rambut dan ketombe sang raksasa pada sebuah kantong.
Mengingat hasil pembicaraannya dengan Balang Esimbar ia tiba-tiba berkata "Kek, aku sangat ingin memiliki seekor macan bermata tujuh. Keinginan itu telah lama terpendam dalam hatiku. Sekarang keinginan itu tak terkatakan lagi besarnya. Kek, tangkaplah aku”.
Mendengar keinginan itu sang raksasa terkejut.
“Cucuku, macan yang kau inginkan itu sangat sulit untuk diperoleh. Kalaupun aku bisa menemukannya, maka untuk menangkapnya pasti sangat sulit. Menurut dugaanku macan seperti itu mungkin hanya terdapat di hutan Telaga Lebur tepatnya di Gawah Ajan. Tetapi lebih baik kalau kau meminta benda yang lain saja cucuku." kata raksasa membujuk.
“Tidak kek. Aku tidak ingin benda lain. Aku hanya menginginkan macan bermata tujuh itu. Kalau kakek tidak bisa mencarikanku lebih baik aku mati. Biarlah aku mati karena menginginkannya. sekarang juga!”. Kata wanita itu
“Jangan cucuku. Kau tidak perlu senekat itu. Sekarang juga aku akan berangkat mencarinya”. Kata raksasa.
Maka terbanglah raksasa itu menuju sebuah hutan di Telaga Lebur yang dahulu kala disebut Gawah Ajan. Ia terbang tinggi sekali. Matanya memandang dengan tajam ke bawah dan mengamati dengan cermat. Tak berapa lama ia melihat sekelompok macan yang sedang beristirahat. Ditengah-tengah kelompok itu tampak seekor bermata tujuh. Dengan hati-hati serta kekuatan dan kecepatan luar biasa raksasa itu menukik ke bawah. Dengan cepat disergapnya macan itu. Ia berhasil dengan baik. Walaupun macan itu mengadakan perlawanan, tetapi tak berarti bagi raksasa itu. Dengan cepat secepat kilat diterbangkan ke angkasa dan menuju goa rumahnya.
Setelah tiba macan itu diikat dan ditambatkan pada batang pohon sawo disamping goa yang merupakan rumahnya.
“Hai cucuku, aku telah berhasil memenuhi permintaanmu sebagi tanda kasih sayangku. Aku telah berhasil memperoleh seekor macan yang bermata tujuh. Binatang itu telah kutambatkan di sebelah. Dan kini bergembiralah engkau”. Kata raksasa
“O, terima kasih kek. Telah lama aku menginginkan macan semacam itu.
Aku sangat bergembira dengan pemberian ini. Tetapi…”
“Apa lagi cucuku. Masih adakah keinginanmu yang belum kupenuhi. Katakanlah sekarang juga. Kakek akan segera mencarinya.
Nah, kalau demikian kek, aku punya satu keinginan lagi. Kalau kakek dapat penuhi aku sangat bahagia”.
“Nah, katakanlah segera cucuku”.
“Carikanlah aku permata yang indah-indah Kek. Intan, berlian atau permata apa saja yang indah. Pokoknya asal permata yang baik”.
“Ha, kalau permata semacam itu yang kau kehendaki, mudah bagiku. Mengapa tak kau katakan sejak dulu. Sekarang juga aku akan berangkat agar segera dapat kembali”.
Maka terbanglah raksasa itu untuk mencari permata yang dikehendaki cucunya. Sesungguhnya bagi seorang raksasa, mencari permata lebih sulit baginya dari pada mencari benda-benda yang lain, karena harus membongkar tanah, menyelam di sungai, lautan dan sebagainya. Karena itu untuk mencari permata ia harus mempergunakan waktu lebih lama.
Segera setelah raksasa itu berangkat, sang cucu yang merupakan putri yang cantik jelita itu kembali mengeluarkan Balang Kesimbar dari dalam persembunyiannya. Pada kesempatan itulah mereka menyusun siasat.
“Balang Kesimbar, bagaimana pendapatmu kalau sekarang juga kita melarikan diri. Kukira inilah saat yang paling tepat bagi kita saat-saat lain sulit diperoleh" kata sang putri
“Apa yang bagi tuan putri akan ku turuti saja”, jawab Balang Kesimbar.
”Baiklah. Sekarang juga kita berangkat. Mari kita mempersiapkan diri”.
Balang Kesimbar dan putri itupun segera mempersiapkan diri. Macan yang bermata tujuh yang terikat di batang sawo, segera diberi pelana dan dijadikan kendaraan. Senjatapun telah dipersiapkan. Balang Kesimbar naik di atas punggung di posisi depan, kemudian disusul oleh sang putri. Setelah itu macan pun dipacu secepat-cepatnya. Larinya secepat kilat. Tampaknya bagaikan terbang. Mereka telah lepas meninggalkangua rumah raksasa itu.
Bersamaan dengan itu, raksasa yang mencari permata itu pun merasakan suatu firasat buruk. Ia merasakan bahwa ada sesuatu terjadi di gua rumahnya. Karena itu ia segera pulang.
Setelah tiba raksasa itu langsung berseru.
“Wahai cucuku. Dimana kau berada. Cucuku,cucuku !” Suasana tetap sepi.
Tak ada suatu jawaban yang terdengar. Raksasa itu langsung memasuki rumah. Semua sudut diteliti dengan cermat. Tentu saja ia tak menemukan seseorang.
“Apakah cucuku telah melarikan diri ?”, pikirnya. Kemudian ia pergi ke bawah pohon sawo, untuk melihat apakah macan kesayangan cucunya berada di kandang atau tidak. Raksasa itu sangat terkejut ketika ia tahu macan itu tak berada di tempatnya. Ia kini yakin cucunya pasti melarikan diri dengan menunggangnya.
“Baiklah. Ia akan segera kususul. Pasti ia belum berada jauh. Ia segera akan kutangkap”.kata raksasa.
Dengan sekuat tenaga ia melompat ke angkasa. Tak berapa lama sesudah itu ia menampak sesuatu titik bergerak dengan cepat.
“Mungkin itulah cucuku”, pikirnya. Ia pun mempercepat terbangnya, dan hampir berhasil menysul cucunya. Melihat hal itu timbullah kekhawatiran yang sangat dalam di hati tuan putri dan Balang Kesimbar.
“Balang Kesimbar. Lihatlah raksasa itu hampir dapat menyusul kita. Bila ia berhasil menyusun kita, pastilah kita binasa dibuatnya. Apa yang kita lakukan sekarang?”.
Pergunakanlah senjata itu untuk membunuhnya. Apa boleh buat. Demi keselamatan kita berdua”. Kata Balang Kesimbar.
Dengan tangkas putri itupun mempergunakan senjata simpanannya. Ia menghantam raksasa itu, sehingga gerakannya terhalang. Tetapi raksasa itu berusaha terus mengejar. Dan pada hantaman berikutnya akhirnya raksasa itu roboh di tengah padang dan tidak bernapas lagi.
“Kek, Apa boleh buat. Ini terpaksa kulakukan maafkan aku kek”,kata putri itu dengan sedih sambil memandang bangkai raksasa itu.
Setelah itu Balang Kesimbar dan sang putri meninggalkan tempat kejadian dan kembali ke rumah kakeknya. Setelah tiba Balang Kesimbar menjadi amat sedih, karena kakeknya ternyata telah meninggal dunia. Dalam keadaan duka, Balang Kesimbar menghadap raja untuk mempersembahkan macan bermata tujuh yang menjadi tuntutan raja. Melihat keberhasilan Balang Kesimbar, raja sangat gembira dan kagum. Rajapun memberikan hadiah-hadiah kepada Balang Kesimbar.
Beberapa hari kemudian, seorang pesuruh istana mengetahui kalau Balang Kesimbar mempunyai seorang isteri yang amat cantik jelita. Dan isterinya itu adalah seorang putri. Dengan rasa dengki dan iri hati pesuruh istana itu pun mengadukan kepada raja.
“Tuanku, dengan hormat hamba melaporkan bahwa Balang Kesimbar memiliki seorang isteri yang amat cantik. Lebih dari itu isterinya itu adalah seorang putri. Sulit kita bisa menemukan seorang wanita secantik itu. Menurut perasaan hamba tak pantas sama sekali Balang Kesimbar memiliki isteri seperti itu. Seharusnya tuankulah yang paling berhak memilikinya”. Kata pesuruh istana itu menghasut.
“Bila demikian halnya, aturlah suatu siasat untuk melenyapkan Balang Kesimbar”,kata sang raja.
Maka diaturlah suatu siasat untuk membunuhnya. Ia akan diperintahkan untuk memperdalam sumur yang telah dalam. Bila Balang Kesimbar berada di dalamnya, maka sumur itu beramai-ramai akan dijatuhi batu. Pastilah Balang Kesimbar akan mati di dalamnya. Bila siasat itu gagal, Balang Kesimbar akan diperintahkan memanjat pohon kelapa yang amat tinggi.Setelah berada di puncak pohon, orang banyak akan menebang pohon kelapa tersebut dan pastilah Balang Kesimbar akan mati.
Tetapi, semua rencana busuk itu tercium oleh Balang Kesimbar. Berkat kesaktian dan kepintaran isterinya. Balang Kesimbar dapat lolos dari rencana busuk itu. Ia membuat boneka dari tepung beras. Kemudian dipergunakan untuk menggatikan Balang Kesimbar mengerjakan perintah raja. Dengan jalan itu Balang Kesimbar luput dari bahaya maut.
Mendengar hal itu tentu saja raja sangat kecewa. Karena niatnya untuk memiliki isteri Balang Kesimbar menjadi terhalang. Tetapi, raja tidak berputus asa. Niat untuk menyingkirkan Balang Kesimbar tetap menyala dalam hatinya. Raja memerintahkan untuk menguji warna darah Balang Kesimbar. Apabila ternyata Balang Kesimbar berdarah merah, maka ia akan di bunuh. Tetapi, apabila ia berdarah putih maka dia berhak menjadi raja.
Dalam peristiwa ini pun isteri Balang Kesimbar berusaha untuk menyelamatkan suaminya. Sebelum pelaksanaan pemeriksaan darah dijalankan, Balang Kesimbar disuruh meminum santan kelapa sebanyak mungkin dan sang putri menerapkan kemampuannya. Dan perbuatan ini menyebabkan ketika pemeriksaan tiba, ternyata darah yang keluar dari tubuh Balang Kesimbar tampak berwarna putih.
Dengan peristiwa itu, Balang Kesimbar berhak menjadi raja menggatikan raja yang zalim itu. Rakyat dengan gembira menyambut upacara penobatannya menjadi raja. Mereka menyelenggarakan pesta empat puluh hari empat puluh malam. Dengan demikian, Balang Kesimbar mulai memerintah kerajaan dengan aman dan sentosa, dan didampingi oleh permaisuri yang memang seorang putri berasal dari kerajaan lain yang sempat di culik raksasa. Mereka hidup rukun dan damai beraama rakyat, damai dan negeri itu menjadi aman serta makmur sentosa.
Nilai- nilai yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah:
~ Kepatuhan dan ketulusan
~ Kejujuran dan tanggung jawab
~ Kesungguhan dan pengorbanan
~ Cinta dan Kasih Sayang
~ Perjuangan dan do'a
~ Dan lain-lain
0 Komentar