Saya terdorong untuk menulis tentang beliau mengingat besarnya jasa dan kiprah beliau dalam berjuang mendidik para tuna netra yang umumnya senasif dengan beliau (sesama tuna netra) di sisi lain beliau berupaya mendidik warga masyarakat Lombok lewat lagu-lagu gambus yang sarat akan pesan agama untuk diamalkan oleh masyarakat Islam pulau Lombok biasanya lagu-lagu itu di putar lewat radio dan kaset-kaset piringan jauh dari sebelum adanya kecanggihan android dan mp3. ditambah juga dengan lagu-lagu yang bertema lokal yang menceritakan kehidupan suku sasak Lombok yang lugu, jujur dan tetap lomboq (berprinsip lurus, jujur) dalam berkata dan bertindak, selain itu adalah lagu-lagu yang bertema menghibur dan menyenangkan hati pendengarnya yang sedang susah.
Abdullah Al Mahsyar lahir di sebuah desa bernama Lepak, Sakra Timur di kabupaten Lombok Timur sekitar tahun 1953. Beliau merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Menurut cerita bahwa pada usia tiga tahun, Al Mahsyar kecil tertular penyakit cacar dari ibunya hingga menyebabkan dirinya menjadi tunanetra dan tak bisa melihat layaknya yang lain sementara ibunya meninggal dunia.
Al Mahsyar mulai memainkan perannya memainkan alat-alat musik mulai dari umur lima tahun dan pada waktu itu beliau sempat tampil di salah satu acara di sebuah desa di kawasan Lombok Tengah yang kebetulan acara tersebut dihadiri oleh Gubernur NTB. Pada saat itu gubernur NTB melihat ada bakat yang luar biasa pada diri Al Mahsyar maka Al Mahsyar kemudian dikirim untuk disekolahkan ke Denpasar Bali sebab pada waktu itu di NTB kebetulan belum memiliki SLB (Sekolah Luar Biasa) khusus untuk para tuna netra.
Sepulangnya dari Denpasar, beliau mulai fokus memainkan peran dan bakat beliau sebagai seniman, budayawan, sekaligus musisi musik-musik lokal di pulau Lombok.
Langkah-langkah pertama yang beliau ambil adalah mendirikan Orkes Musik Pelita Harapan yang berkembang pesat pada zamannya, bahkan sering mengiringi para artis dan vokalis yang datang dari luar daerah yang mengadakan lawatan ke pulau Lombok.
Beliau juga mendirikan Sekolah Tunanetra Pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kemudian setelah sekolah itu berhasil di dirikan maka Al Mahsyar mulai merekrut dan mengumpulkan para tuna netra dari berbagai desa dan dusun di Pulau Lombok yang senasip dengan beliau (tuna netra) untuk di sekolahkan. "Wahku paq tenaq milu sekolah keang Al Mahsar laeq, laguq bapun meq saq nyadeang." ( dulu saya pernah diajak untuk sekolah oleh Al Mahsyar tetapi nenekmu yang yang tidak mengizinkan saya) tutur salah seorang Tuna Netra berasal dari Telaga Lebur, Desa Sekotong Tengah bernama Sa'ad kepada penulis.
Kiprah pengabdian Al Mahsyar di bidangnya sungguh luar biasa, meski hidup sebagai seorang tuna netra beliau telah mencoba menjadi figur contoh yang baik sekaligus secara langsung dan tidak langsung memberikan spirit dan memotivasi bagi siapapun untuk bisa berbuat (beramal) dan berkarya sebagai sebagai bentuk buah tangan sekaligus kenang-kenangan bagi seantero masyarakat Lombok dari sekian banyak buah karyanya, diciptakan pula lagu-lagu religi berupa lagu gambus sasak bernuansa Islami , lagu-lagu yang bertema dan mengandung pesan nasehat agama dan kepedulian sosial contohnya lahu Ngiring Periak, dan lain-lain. Dan Pada Yayasan Tuna Netra yang di bangunnya Al Mahsyar berkecimpung memberikan pelajaran bagi teman-teman yang senasip dengannya (sesama tuna netra). Al Mahsyar mahir mengetik dengan sepuluh jari dengan menggunakan metode huruf braille, dan di yayasan itu pula mereka belajar menghafal Alqur'an dan dan belajar tilawatil qur'an dengan cara menyetel mp3-nya lewat laptop dan kemudian berusaha meniru bacaannya.
Namun kini sang maestro yang di kenal hampir seluruh lapisan masyarakat sasak itu telah berpulang ke rahmatullah, sebuah berita duka tertulis di akun facebook pribadi salah seorang putra beliau tulisan itu berbunyi "innalillahi wa innailaihi rojiun, telah meninggal dunia ayahanda kami bpk. Abdullah Mahsyar pada hari ahad tgl 20/09/2020, akan dimakamkan pada hari senin 21/09/20 ba’da zuhur di pemakaman umum selagalas,” tulis didik sapaan akrab bagi putra beliau melalui laman facebook pribadinya.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang layak di sisiNya.

0 Komentar