Inaq Tegining & Amaq Teganang, Cerita Legenda Dari Pulau Lombok


Sekitar 9 tahun yang lalu, sebuah lagu daerah berjudul  "Inaq Tegining Amaq Teganang" di putar oleh MC dan petugas Sound System pada saat wisuda ketika itu. Masih Terngiang dalam ingatan bunyi liriknya..

"Leq jaman laek araq sopoq cerite, Inaq Tegining Amaq Teganang arane.

Pegaweane ngarat sampi leq tengaq rau.

Sampin sai tekujang kujing leq tengaq rau.

 Inaq Tegining Amaq Teganang epe ne

Ongkat dengan Tegining Teganang lueq cerite. Ngalahin datu si beleq beleq ongkatne.."

Sepintas lagu itu kadang terdengar kolot namun siapa sangka ternyata di dalamnya terkandung hikmah yang dalam sebagai bekal menghadapi problematika kehidupan seiring bergulirnya waktu. Yang menarik adalah bahwa ternyata lagu itu bukan hanya sekedar lagu yang diciptakan secara instan melainkan terinspirasi dari salah satu cerita legenda masyarakat sasak yang mengisahkan tentang sosok manusia biasa bukan pejabat bukan pula bangsawan. 

Aneh memang, karena  terkadang faktanya bangsawan tulen pun jarang menjadi tokoh inspirasi yang tetap dikenang dihati kemajmukan masyarakat suku Sasak dari ujung timur sampai ujung barat, dari ujung utara sampai selatan, apalagi perjalanan hidupnya dibuat menjadi sebuah lagu daerah. Ternyata berikut ini kisahnya...

Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang bernama Inaq tegining dan amaq teganang. Mereka hidup disebuah desa kecil di pulau Lombok. Konon dulunya mereka memiliki seorang anak, namun karena terkena wabah penyakit anak mereka akhirnya  meninggal. Setelah anak mereka meninggal  inaq tegining dan amaq  teganang  seperti biasa bekerja kemabli sebagai  petani, cuma saja mereka tidak memiliki lahan dan sawah sendiri sebagai tempat bercocok tanam karena kebetulan  tidak ada warisan dari orang tua mereka berdua, Jadi mereka bekerja sebagai petani di lahan orang alias bekerja sebagai buruh tani disawah orang, mereka hanya dibayar dengan cara makan dan minum gratis setelah selesai  bekerja oleh yang punya tanah. Karena pada zaman dulu juga tidak ada uang sebagai alat jual beli maka mereka melakukan jual beli dengan cara  menukar barang-barang mereka dengan barang-barang lain yang mereka butuhkan (barter).

Inaq tegining dan amaq teganang sepakat  tidak mau ambil pusing dengan kehidupan duniawi mereka, yang ada dalam pikaran mereka hanyalah bagaimana cara untuk bisa bertahan hidup dan makan gratis tanpa harus membayar dengan harta dan uang jadi cukup hanya dengan tenaga saja asal kesehariannya bisa dapat makan berdua kalau dalam bahasa sasak Telaga Lebur  'pokok e mauq mengan'. Mereka juga tidak menuntut gaji tambahan kepada majikannya Satu satunya harta karun yang paling berharga bagi mereka hanyalah dua  ekor sapi, yaitu sapi jantan dan betina, yang selalu mereka bawa  kemanapun  mereka pergi. 

 


Diceritakan pada suatu hari di  pagi hari nan cerah, Amaq Teganang pergi kesawah bersama istrinya sambil membawa sepasang  sapi kesayangan mereka, tiba-tiba mereka bertemu dengan seseoerang yang sangar dan  berwatak sombong  bernama amaq Sahnun. Amaq sahnun  melihat Inaq Tegining dan Amaq Teganang membawa sapi mereka ke sawah, kebetulan sekali amaq sahnun  tadi  malam kehilangan dua ekor sapinya dan lalu karena pusing dan capek mencari sapinya sendirian kemana-mana akhirnya timbul niat licik di dalam hatinya untuk mencoba membodoh-bodohi Inaq Tegining dan Amaq Teganang dengan mengaku-ngaku bahwa sapi yang di bawa oleh Inaq Tegining dan Amaq Teganang adalah sapi miliknya 

Dengan kalimat yang bernada menuduh  kepada Inaq  Tegining dan Amaq Amaq sahnun berkata ‘’ Ee..Inaq Tegining, Amaq Teganang Mbe kolan site mauq sampi tie? lamunku gitaq ye pade rue e kance sampingku siq ilang tekelem  no!” 

( Wahai Inaq Tegining dan Amaq Teganang darimanakah kalian dapatkan sapi itu? kalau saya perhatikan sapi itu mirip sekali dengan sapi saya yang hilang tadi malam )  kata Amaq Sahnun, mendengar kata-kata itu Amaq Teganang merasa di tuduh ia pun tak terima kalau dia dituduh muncuri  sapi oleh Amaq Sahnun maka terjadilah suasana yang menegangkan, Amaq Teganang berusaha  melawan Amaq Sahnun untuk berdebat sengit selama berjam- jam, begitu lamanya mereka  berdebat di pinggir jalan, dan banyak sekali orang yang melihat perdebatan antara  Amaq Teganang dan Amaq Sahnun tersebut yang  berdebat tentang kepemilikan sepasang ekor sapi yang ada dihadapan mereka.

Selang beberapa waktu tak lama kemudian, ada seorang warga yang tiba-tiba berbicara dan  menjadi saksi mata lalu menerangkan yang sebenarnya bahwa  sapi tersebut bukan merupakan sapi Amaq Sahnun melainkan memang benar milik Amaq Teganang lalu memberikan pembelaan kepada Amaq Teganang yang ujung-ujungnya  membuat Amaq Sahnun malu di dihadapan orang banyak dan kemudian dian-diam segera meninggalkan tempat itu. Dari kejadian itulah  lama Amaq Teganang disegani oleh semua masyarakat karena keberaniannya mempertahankan hak miliknya yang sah serta kepolosan dan kejujuran hatinya. 

Dari cerita ini kita bisa memetik banyak pelajaran diantaranya badalah,

1. Tentang Keberanian dan kejujuran

karena karena watak dan karakter dasar Suku Sasak Lombok itu sebenarnya adalah berani karena dalam posisi benar, takut jikalau dalam posisi salah, Amanah dan Jujur serta berbudi luhur. Tak heran jika pada masa Majapahit diakui oleh Mpu Prapanca sehingga di tulis   dalam kitab Negara Kertagama Pupuh  XIV disitu Mpu Prapanca mengabadikan karakter ini dalam sebuah kalimat  "Lombok Mirah Sasak Adi"  "lombok" dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau indah.


2. Lewat Cerita diatas kita bisa belajar bagaimana mencari nafkah yang halal walau harus kerja keras itu lebih utama daripada mendapatkan keuntungan yang kelihatannya banyak tetapi tidak berkah karena di dapat dari jalan menipu, korupsi dll.

3. Dari cerita itu pula kita belajar bagaimana harus melakukan pembelaan terhadap kebenaran tanpa takut resiko.

Masih Banyak lagi pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita legenda ini untuk bisa kita jadikan panutan lebih- lebih  di Era Milenial sekarang ini dimana kemajuan teknologi dan informasi   berkembang pesat dan pergaulan antar bangsa semakin mudah lalu sebagai dampaknya bisa jadi nilai- nilai ketimuran yang luhur akan terkikis karena terpengaruh faham westernisasi sekiranya hal-hal kecil namun bernilai seperti ini tidak ditulis untuk dibaca dan di hayati oleh setiap generasi yang akan datang kemudian.


(Dikutip dari berbagai sumber).


Posting Komentar

0 Komentar